Tulisan kali ini sebenernya merupakan lanjutan dari my job's stories heehehee
Masih bingung sbenernya peran dan fungsi quality control/quality assurance (QA/QC) yang aku jalani sekarang. Karena dulu pas jaman kuliah tidak ada secara detail menjelaskan dan mempraktikkan tugas QC/QA. Selama menunaikan pekerjaan ini yaa ngecek ngecek ngeceek dan ngecek (mirip evaluator mungkin). Terkadang sempat terpikir, kalo tiap hari mengecek tapi tidak ada perubahan, ya untuk apa??
Sampai aku menemukan blog yang mengulas sedikit tentang quality control, yang kebetulan si blogger adalah quality control
APA YANG DINAMAKAN QUALITY CONTROL
Manusia sejak awal, sudah memiliki penilaian kebutuhan suatu barang yaitu antara barang yang baik dan tidak baik. Maka dari sana
sudah ada QC, karena sudah ada yang baik dan tidak baik, berarti
masyarakat konsepnya mempunyai keinginan yang lebih maju dan lebih
makmur.
Untuk
perusahaan kecil kontrol hanya dilaksanakan sendiri, termasuk kualitas
oleh karena itu masalah QC tidak begitu penting, tetapi jika untuk
perusahaan menengah dan besar seharusnya perlu adanya QC secara khusus.
Untuk itu QC menjadi suatu bagian tersendiri (khusus).
Quality
Control adalah profesi Inspecting, Testing, dan Grading. Dengan
menggunakan statistik sebagai analisa angka-angka (data-data) yang tepat
sebagai jawaban untuk pembanding dan estimasi hasil yang baik dan yang
tidak baik dipisah-pisahkan (grading) untuk mencari mana yang dapat
diterima (Accept) dan mana yang ditolak (Reject).
Tujuan pengusaha menjalankan QC adalah untuk mencari just to the point
dengan cara yang fleksible dan untuk menjamin agar konsumen merasa
puas, investasi bisa kembali, serta perusahaan mendapatkan keuntungan.
Bagian
pemasaran dan bagian produksi tidak perlu memaksakan, tetapi perlu
kelancaran dengan memanfaatkan data, inspection dan testing dengan
analisa statistik dari QC yang disampaikan kepada pihak produksi untuk
mengetahui bagaimana hasil kerjanya sebagai langkah untuk perbaikan.
Saat
pelaksanaan QC dan testing bisa ditemukan beberapa masalah kualitas
khusus, kemudian dibuat suatu study masalah khusus agar dapat
dipergunakan untuk mengatasi masalah di bidang produksi.
Disamping
tersebut di atas tugas QC yaitu : jika terjadi komplain atau return,
mengadakan cek ulang dan menyatakan kebenaran return untuk bisa diterima
atau tidak diterima secara terpisah lalu laporkan kepimpinan supaya
bisa mengusut dan memberikan informasi ke departemen terkait untuk
kemajuan proses berikutnya.
Untuk penyelesaian barang – barang seconds Quality juga merupakan tanggung jawab dan tugas QC.
KONSEP PELAKSANAAN QC TERHADAP DEPARTEMEN QC
Pada
perusahaan besar maupun menengah, pelaksanaan tugas Quality Control
diperlukan personil yang perpendidikan tinggi (sarjana) dan memiliki
kemampuan untuk menganalisa data statistik, memiliki kemampuan dan
pengalaman dalam manajemen produksi serta bersikap jujur, mampu menahan
diri dan mempunyai loyalitas yang tinggi terhadap perusahaannya. Tidak
takut menghadapi kesulitan dan tidak menerima jasa serta siap untuk
tidak merasa sedih jika menerima kondisi yang pahit, sebab dari dulu
berprofesi seperti ini tidak sederhana dan harus berirama
(berfrekuensi), ahli di bidang teknologi dan pengalaman dalam mengatasi
masalah personil. Karena QC adalah mendata hasil testing dan inspecting dari
beberapa dept. produksi dan dari data tersebut diinformasikan sampai
kepada tom manajemen, maka manajemen produksi biasanya kurang senang.
Prinsipnya semua orang tidak begitu senang jika profesinya dikoreksi,
apalagi manager – manager berusia muda, sifatnya merasa dirinya super
dan sifatnya melawan arus adalah kuat sekali.
Untuk
melaksanakan QC selain harus mendapatkan dukungan dari atasan, juga
memerlukan seseorang yang mempunyai kedudukan tinggi dan bertanggung
jawab, serta aktif dalam konsep QC, disiplin untuk memberikan konsepnya
kepada semua orang, dan harus bisa bekerja sama, serta harus team work.
Dengan ini profesi QC bisa lancar dan bisa cepat mengalami kemajuan.
Sebagai QC
jangan sekali-kali membuat informasi dan usulan yang tidak pas, hal ini
akan menambah kesalahpahaman. Untuk hasil kualitas yang baik dan yang
tidak baik, semua harus didata dan diinformasikan sampai ke manajemen
bisa mengetahui permasalahanya. Sebagai QC
harus mempunyai konsep dasar; bagaimana sering memberi usulan, saran
atau proposal terhadap Departemen terkait yang terdapat kesalahan.
Selain konsep juga harus mempunyai pemikiran, teknologi, skill serta
mengerti permasalahanya, dan cara penyampaiannya harus sopan dan santun,
agar tidak terjadi kesalahpahaman.
Memang
kerja QC kadang-kadang insidentil dan antisipasi resolusi proposal,
kami percaya konsep dasar dan pokok adalah menggunakan QC, maka di dalam
penggunaan QC selain mampu menguasai teknologi dan ilmu secara umum,
juga memerlukan pemikiran dari segi material dan spiritual. Jika tidak
demikian mungkin berlawanan dan akan timbul perpecahan yang akhirnya
tidak bermanfaat untuk perusahaan.
Perlu
kita ketahui segenap anggota QC harus bekerja dalam kondisi adil
terhadap profesinya dan dengan sungguh – sungguh mampu menemukan
permasalahan yang serius akan tetapi penyampaiannya harus dengan kata –
kata yang baik, sedapat mungkin dengan ramah dan netral.
Pada
umumnya saat menerima klaim masing – masing departement hampir semua
dengan menggunakan cara yang sama yaitu : proteksi diri sendiri kemudian
melemparkan masalahnya dengan orang lain ketika menghadapi pengusutan
dari atasannya.
Sesungguhnya klaim dari konsumen mencakup banyak penyebabnya.
Contoh
: ada klaim barang konfeksi dari konsumen dan yang pertama kali harus
menerima dan bertanggung jawab seharusnya bagian Garment (konfeksi),
tetapi mereka dapat mencari cacat yang asalnya bukan dari konfeksi,
misalnya miss print yang cacat dari bagian printing atau double pick
yang cacat dari kain grey, padahal ada teknologi tambal sulam yang
harus dikuasai tapi saat proses konfeksi tidak mampu, sehingga
standarnya tidak sesuai dan dalam percakapan menghindari masalah yang
sesungguhnya, sehingga membuat hal yang negatif. Kemudian setelah
dianalisa oleh QC ternyata ditemukan masalah printing 10% dari kain grey
10% dan yang 70% dari konfeksi, sedang untuk yang lainya 10% ini hasil
analisa disalah satu perusahaan tekstil yang menengah dan yang besar.
Oleh karena itu bukan setiap departement harus berhati – hati, tetapi
yang terpenting adalah masalah konfeksi yang harus diperkuat dalam
melatih tenaga kerjannya dan tidak perlu membuang-buang waktu untuk
ribut-ribut yang tidak menemukan titik sasarannya serta tidak mencapai
tujuan, dalam mengatasi permasalahan yang lebih baik.
PANDANGAN ORANG UMUM TERHADAP QUALITY CONTROL
Pada umumnya pejabat yang bersangkutan hanya berkonsep QC, jika pendirian tidak sama, konsepnyapun tidak sama.
Menjalankan
profesi QC didalam perusahaan, konsepnya harus tepat,mampu bekerja
sama, pembagian tugas yang adil, kreatif dan rajin serta harus team work.
Secara umum ada beberapa konsep QC, antara lain :
- konsep
QC antara pembeli dan penjual pada negara yang mempunyai standar
kehidupan dan selera serta permintaan konsumen yang tidak sama,
yaitu :
è ada
konsumen yang mempunyai permintaan mengharuskan kualitas produksi pada
tingkat paling atas. Walau harganya tinggi tidak jadi masalah, misalnya :
untuk label /merk yang ternama contoh : seperti di negara eropa,
Amerika dan jepang pada saat ini.
è Ada
konsumen yang mempunyai selera harganya murah walaupun kualitas
produksinya kurang tidak jadi masalah, misalnya Afrika, timur tengah
atau konsumen dari pedesaan.
è Ada konsumen yang maunya harganya murah, kualitas bagus dan deliverynya cepat dan tepat, biasanya para pengusaha.
- konsep QC dari pengusaha dapat dibagi – bagi sesuai dengan kesuksesannya :
è hasil
kualitas yang baik, dapat memuaskan konsumen dan mendapatkan keuntungan
serta memerintahkan bawahan untuk betul – betul bertanggung jawab.
è Harus
mengadakan percobaan dan pembuktian terhadap standar kualitas yang
dicurigai dan tidak perlu khawatir jika terjadi kegagalan, harus ada
kemauan dan tekad untuk mengambil pengalaman demi mengurangi kerugian
yang lebih nyata.
è Meminta kepada bawahan untuk menjual hasil yang ”O” defect, dan tidak dibenarkan terjadi barang second Quality menumpuk di gudang.
è Ada
beberapa pimpinan yang menerima klaim dari konsumen tetapi harus benar –
benar tepat dan ada yang mengganti dengan mengubah syarat harus dapat
menemukan penyebabnya supaya bisa untuk diperbaiki. Dan jangan sampai
menempatkan orang yang tidak mampu dan tidak mudah melakukan kesalahan
serta harus maklum terhadap hati sanubari mereka.
Memberikan
pelayanan terhadap masyarakat juga harus dipelihara dengan baik dan
bertanggung jawab terhadap anak buahnya yaitu dengan memperhatikan
kehidupan dan kesejahteraannya, rasa aman dan adil sehingga anak buah
tersebut ada kemauan bertanggung jawab terhadap konsep QC yang
diberikan.
è Sehingga barang hasil produksi apa yang paling parah jika terjadi kesalahan dari pihak produksi harus dikenakan ganti rugi.
- konsep QC dari pihak / unit produksi
è para
karyawan diproduksi harus mau mengerti dan bertanggung jawab apabila
terdapat salah satu produksinya cacat. Dengan ini masalah kualitas
produksi yang harus menjadi tanggung jawabanya jangan sampai jelek terus
menerus. Dalam konsep pokok QC didalam proses produksi ialah baik
buruknya barang produksi adalah merupakan tanggung jawab manager
produksi. Bagian QC tidak berhak mencampuri urusan ini, karena tidak
demikian sistem kerja QC didalam kenyataannya tidak bisa leluasa
dijangkau. Contohnya : karyawan / karyawati tidak tahu menahu sehingga
pihak pimpinan memiliki kesempatan untuk melempar tanggung jawabnya.
Dari sini bisa menjadi penyebab kesalahpahaman, sehingga terjadi masalah
yang tidak baik
è konsep QC terhadap bagian produksi :
hasil produksi di cross check
lagi oleh bagian QC dan hasilnya diinformasikan kepada bagian produksi
dengan data yang jelas sebagai komunikatif, kemudian ditindaklanjuti
oleh QC.
Hal
ini sama seperti kepala keluarga yang memepunyai anak – anak yang
sekolah, dan dari pihak sekolah memberikan informasi berupa rapor (hasil
study dari anak tersebut) kepda orang tuanya, agar orang tua tersebut
bisa mengetahui kondisi anaknya disekolah, biasanya untuk hasil yang
baik mendapatkan hadiah dan untuk hasil yang tidak baik diberikan
pengarahan agar mereka bisa berubah lebih maju.
artikel diatas diambil dari buku "Pengendalian Mutu Terpadu Untuk Industri Tekstil dan Konfeksi" karya Peter Chang MK.