Rabu, 19 Desember 2012

Hal-Hal yang harus kamu perhatikan saat Resign

Mencari pekerjaan yang sesuai dengan hati dan pikiran memang tidaklah mudah, terutama bagi para fresh graduate yang terkadang masih banyak kebimbangan dalam menentukan karirnya. Bila sudah bisa memulai pekerjaan dengan baik, seharusnya bisa pula mengakhirinya dengan baik pula.
Berikut ini beberapa hal yang tidak boleh sahabat lakukan ketika memutuskan untuk berhenti dari sebuah pekerjaan, agar apa yang sahabat putuskan tidak menghambat karir kedepannya :

1.Emosional
Perlakuan tidak adil yang Anda terima (misalkan ada) memang menyakitkan, namun itu bisa berarti Anda memang tidak lagi dibutuhkan di tempat kerja Anda. Jangan menangis, berteriak, memohon agar Anda bisa mendapatkan pekerjaan Anda kembali atau marah-marah kepada seseorang. Sama sekali jangan.

"Meskipun sulit, tinggalkanlah pekerjaan Anda dengan senyum di wajah," saran Cynthia Shapiro, seorang penasihat karier dan penulis buku “What Does Somebody Have to Do to Get a Job Around Here! 44 Insider Secrets and Tips That Will Get You Hired”.

Jika Anda tidak dapat menahan air mata, tenangkan diri di toilet sampai Anda merasa lebih tenang. Lalu kembalilah dengan anggun saat Anda kembali ke ruangan. "Anda tidak pernah tahu apakah Anda akan ingin bekerja untuk perusahaan tersebut, atau dengan orang-orang di dalamnya, lagi," kata Shapiro. "Jangan kubur semua prestasi Anda hanya karena satu momen emosional."

2. Jujurlah saat wawancara pengunduran diri
Sebelum Anda keluar dari perusahaan, sesuai prosedur SDM akan berbicara dengan Anda mengenai pengalaman di perusahaan tersebut dan alasan mengundurkan diri. Wawancara tersebut bisa menjadi kesempatan rahasia untuk memberikan kritik yang membangun. Kemungkinan besar, Anda ingin mengungkapkan semua yang ada di dalam pikiran Anda. Namun jangan terjebak.

"Apa pun yang Anda katakan bisa dan akan menjerat rekan Anda," kata Levit. Ini sumber masalah jika Anda bekerja di sebuah industri kecil dan Anda kembali bertemu dengan orang-orang yang sama lagi. Ditambah, komentar tentang bos yang sangat menyiksa atau harapan yang tidak realistis mungkin dapat membuat Anda dianggap sebagai tipe orang pengeluh, kata Shapiro.

Hal tersebut bisa merugikan bagi Anda, jika Anda mencari posisi di perusahaan itu lagi. Saran terbaik untuk wawancara pengunduran diri Anda adalah berfokus pada hal yang positif.

3. Mengambil uang pensiun
Setelah Anda kehilangan pekerjaan atau dipecat, perusahaan Anda akan mengirimkan surat yang menanyakan rencana Anda terhadap dana di rekening pensiun (misalkan ada). Bila Anda sudah tidak memiliki pekerjaan lagi, maka hal tersebut bisa sangat menggoda.

Namun bahkan jika situasi keuangan Anda sedang memburuk, jangan langsung menyerah dan memilih menggunakan uang pensiun itu, ungkap Shapiro. Bukan hanya karena Anda harus bayar penalti untuk mencairkan uang pensiun sebelum masanya, tapi juga uang pensiun “adalah satu-satunya aset yang melindungi Anda dari status kebangkrutan," kata Sapiro.

4. Berbicara negatif tentang perusahaan Anda sebelumnya
Saat Anda melakukan wawancara di perusahaan baru, berhati-hatilah saat menceritakan kepada orang lain tentang pekerjaan lama atau atasan Anda yang lama. Pada dasarnya, jika Anda tidak memiliki sesuatu yang baik untuk diceritakan, maka jangan berbicara sama sekali.

Berbicara hal-hal yang negatif dapat membuat Anda terlihat seperti pengeluh atau membuat Anda tampak setia, kata Shapiro. Ketika Anda ditanya mengapa meninggalkan pekerjaan sebelumnya, berikanlah alasan yang lebih positif, bahkan jika perlu Anda sebaiknya mengada-ada. "Mengatakan bahwa Anda ingin mencoba tantangan baru adalah cara yang positif untuk membalik kenyataan bahwa Anda tidak bisa sejalan dengan atasan Anda," kata Levit.

5. Mengundurkan diri tanpa mendapatkan surat rekomendasi
Beberapa perusahaan tidak mengizinkan karyawan untuk memberikan surat referensi kepada mantan rekan kerja mereka, karena khawatir kritik bisa memicu gugatan. (Seseorang yang merasa difitnah bisa menuduh isi dari surat rekomendasi itu palsu dan merupakan alasan bahwa ia tidak layak untuk dipekerjakan). Sementara itu, ketika calon atasan menelepon ke perusahaan lama Anda untuk memeriksa tentang data diri Anda, pihak personalia biasanya tidak pernah berkomentar kecuali mengonfirmasi jabatan dan masa kerja Anda. sehingga sangatlah penting untuk mengamankan referensi profesional (dengan kop surat perusahaan) jika mungkin atau seseorang yang bisa dipercaya di perusahaan Anda jika tidak memungkinkan.

"Lagipula, Anda akan mendapatkan referensi yang sama," kata Shapiro, yang yakin bahwa akan lebih baik mendapat surat rekomendasi tertulis sebelum Anda meninggalkan pekerjaan lama Anda, karena semakin lama Anda meninggalkan perusahaan tersebut, Anda mungkin akan kesulitan untuk berkomunikasi dengan orang-orang yang Anda butuhkan untuk menjamin Anda.

6. Tidak mengajarkan pengganti Anda mengenai tugas yang harus ia kerjakan
Sebelum Anda meninggalkan perusahaan, cari dan latihlah pengganti Anda, atau setidaknya, menuliskan memo yang panjang dan spesifik mengenai status proyek, lokasi dokumen serta informasi kontak klien. "Mengatakan, 'kamu harus mengurusnya tanpa aku' mungkin akan terdengar hebat, namun hal tersebut tidak mempertahankan reputasi baik Anda," kata Levit. Hal tersebut juga tidak akan menghindarkan Anda dari gangguan rekan yang menggantikan Anda yang akan selalu menelepon.

7. Mengada-ada resume
Sebelum Anda mengirimkan dokumen apa pun dalam bentuk tulisan mengenai riwayat pekerjaan, pastikan semua yang tertulis di dalamnya sudah tepat. Personalia dari perusahaan lama Anda akan dihubungi oleh perusahaan yang Anda lamar untuk memverifikasi masa kerja dan posisi yang Anda tempati dulu, dan Anda tentunya tidak ingin sedikit keteledoran atau ketidakakuratan tulisan Anda membahayakan posisi Anda. Resume Anda bisa menjebak karena sebuah kesalahan faktual yang sederhana, ungkap Shapiro.

8. Bicara tentang peluang pekerjaan baru dengan rekan kerja
Jika Anda sedang menunggu-nunggu hari terakhir bekerja di perusahaan, Anda mungkin ingin mengobrol dan bercerita soal pekerjaan baru Anda dengan rekan kerja, yang hampir pasti akan menanyai Anda dengan pertanyaan-pertanyaan tentang hal itu. Namun sebisa mungkin jangan terlalu blak-blakan, kata Levit.

Anda tentu tidak ingin membuat orang lain merasa tidak enak atau merasa ditinggalkan. Dan Anda tidak ingin menyombongkan diri, yang bisa menimbulkan perasaan negatif pada orang lain. Selain itu, jika Anda melebih-lebihkan kehebatan dari kesempatan baru yang Anda miliki, maka Anda bisa berakhir tampak konyol jika ternyata tidak berhasil.

http://id.she.yahoo.com/8-hal-yang-s...024428412.html


Jika Anda memimpikan untuk bekerja di rumah, tanpa mengganti baju tidur sambil minum kopi di meja kerja sebelah kasur atau apapun alasannya? Anda tidak sendiri, banyak orang mendambakan bekerja tanpa harus keluar dari rumah tetapi tetap menghasilkan uang.


Sepertinya memang menyenangkan, tapi butuh kerja keras dan dedikasi tinggi. Jika anda serius untuk menjadi bos bagi diri sendiri dan bisa menentukan tempat bekerja yang sesuai keinginan anda, berikut ini ada beberapa tips.
1. Analisa Situasi Keuangan Anda
Langkah terpenting dalam memulai usaha sendiri adalah mengetahui pemasukan dan pengeluaran anda setiap bulan. Termasuk untuk apa dan bagaimana pengeluaran dan pendapatan tersebut didapat. Perusahaan anda layak mendapatkan semua itu sejak awal dibangun.
Hitunglah seluruh keuangan anda dengan baik, tak hanya keuangan pribadi tapi juga perkiraan biaya yang diperlukan untuk membuka usaha sendiri tersebut. Berapa banyak uang yang diperlukan untuk memulai? Berapa biaya operasinya setelah satu minggu berjalan? Dengan angka-angka ini di tangan, kemampuan finansial anda akan terlihat dengan jelas.
2. Perhatikan Stabilitas dan Disiplin Diri Sendiri
Uang bukan hanya faktor utama dalam menjalankan bisnis sendiri. Anda juga harus tahu bagaimana bertindak dan disiplin menjadi seorang bos bagi diri sendiri. Lihat beberapa poin di bawah ini:
Tingkat emosi: Apakah anda mudah marah atau panik? Apa anda sulit berpikir saat ada masalah? Bagaimana sikap anda menghadapi tekanan kerja?
Faktor pendukung: Apakah anda mendapat dukungan dari keluarga dan teman dekat? Apakah anda punya seseorang yang mahir dalam bisnis, seseorang yang bisa dimintai bantuan dalam mengambil keputusan dan meminta masukan?
Keahlian manajemen: Apakah anda terlalu bekerja keras? Anda terbiasa kerja dengan tenggat waktu? Bisa memimpin organisasi?
Menjadi bos bagi diri sendiri berarti anda harus benar-benar menghargai waktu, uang dan proyek.
3. Rancang Rencana Kerja
Jika anda menjadi bos, berarti anda akan punya karyawan, jadi bagaimana rencana kerjanya nanti? Jangan tentukan rencana kerja setengah hati karena ini merupakan bisnis yang akan menjadi penopang hidup anda.
Misalkan anda berniat menjadi konsultan bisnis, jangan hanya berhenti sampai di situ. Tentukan juga konsultan bisnis di sektor industri apa anda akan bergerak. Sekalian tentukan juga siapa klien-klien potensial anda.
4. Mulailah Bekerja Paruh Waktu
Biasanya butuh beberapa bulan untuk benar-benar mulai menjalankan bisnis sendiri secara penuh. Untuk memulainya, anda bisa lakukan dengan cara paruh waktu. Sebagian besar waktu anda lakukan dengan bekerja di kantor yang sekarang anda punya. Akhir pekan tiba, jalankan bisnis pribadi anda tersebut.
Mengapa harus perlahan-lahan? Kenapa tidak langsung fokus sekaligus? Alasannya, mencari klien tidak semudah yang anda bayangkan, perlu banyak waktu dan tenaga. Bahkan, waktu kerja anda tidak akan terlalu padat saat awal memulai bisnis, jadi untuk apa menghabiskan banyak waktu kalau anda punya pekerjaan yang lebih penting.
Tunggu sampai benar-benar klien dan keuangan anda siap dikerjakan secara total. Sementara ini lakukan dua pekerjaan sekaligus dulu. Memang anda akan lebih sibuk, tapi ini akan membantu anda dalam mengatur manajemen waktu.
5. Jalankan Masa Transisi
Ketika jumlah klien sudah mulai banyak, keinginan untuk bekerja di rumah akan semakin besar. Pada titik ini, anda memasuki masa transisi yang sangat penting.
Jika memungkinkan, mintalah pada bos anda saat ini untuk mengurangi jam kerja anda, sehingga bisa lebih fokus ke bisnis pribadi. Jika tidak memungkinkan, maka anda harus bekerja lebih keras. Dari sisi keuangan, semakin anda berhemat maka semakin baik untuk bisnis.
6. Siapkan ‘Kantor’
Segera setelah semua elemen siap, anda sudah menjadi sebuah entitas bisnis yang legal. Urus semua urusan administrasi untuk keperluan pembentukan perusahaan supaya tidak ada aspek hukum yang bisa mengganjal anda di kemudian hari. Mintalah bantuan profesional untuk mengurus semua ini.
Anda harus segera mengakhiri masa transisi ini dengan menentukan pilihan, apakah anda sudah siap mengerjakan bisnis pribadi atau masih ingin jadi karyawan? Semakin cepat masa transisi ini terselesaikan maka semakin cepat pula bisnis anda dimulai.
7. Jangan Putus Hubungan
Ketika sudah saatnya untuk mengucapkan selamat tinggal kepada perusahaan tempat anda bekerja selama ini, lakukan secara profesional. Beberapa rekan kerja anda di tempat yang lama kemungkinan bisa membantu bisnis anda ke depan. Jangan sampai putus hubungan hanya karena anda keluar dari pekerjaan saat ini.
8. Pastikan Pekerjaan Terus Mengalir
Kunci kesuksesan sebuah bisnis adalah memastikan pekerjaan terus mengalir. Atur semua jadwal pekerjaan yang paling baru paling utama, sehingga tidak ada pekerjaan yang tertinggal. Kini, semua tergantung anda sendiri, mulai dari mencari klien sampai mendapat pemasukan setiap akhir bulan.
So, Guys…ready to take action ?

Sumber :
http://restomesin.wordpress.com