Rabu, 19 Desember 2012

Hal-Hal yang harus kamu perhatikan saat Resign

Mencari pekerjaan yang sesuai dengan hati dan pikiran memang tidaklah mudah, terutama bagi para fresh graduate yang terkadang masih banyak kebimbangan dalam menentukan karirnya. Bila sudah bisa memulai pekerjaan dengan baik, seharusnya bisa pula mengakhirinya dengan baik pula.
Berikut ini beberapa hal yang tidak boleh sahabat lakukan ketika memutuskan untuk berhenti dari sebuah pekerjaan, agar apa yang sahabat putuskan tidak menghambat karir kedepannya :

1.Emosional
Perlakuan tidak adil yang Anda terima (misalkan ada) memang menyakitkan, namun itu bisa berarti Anda memang tidak lagi dibutuhkan di tempat kerja Anda. Jangan menangis, berteriak, memohon agar Anda bisa mendapatkan pekerjaan Anda kembali atau marah-marah kepada seseorang. Sama sekali jangan.

"Meskipun sulit, tinggalkanlah pekerjaan Anda dengan senyum di wajah," saran Cynthia Shapiro, seorang penasihat karier dan penulis buku “What Does Somebody Have to Do to Get a Job Around Here! 44 Insider Secrets and Tips That Will Get You Hired”.

Jika Anda tidak dapat menahan air mata, tenangkan diri di toilet sampai Anda merasa lebih tenang. Lalu kembalilah dengan anggun saat Anda kembali ke ruangan. "Anda tidak pernah tahu apakah Anda akan ingin bekerja untuk perusahaan tersebut, atau dengan orang-orang di dalamnya, lagi," kata Shapiro. "Jangan kubur semua prestasi Anda hanya karena satu momen emosional."

2. Jujurlah saat wawancara pengunduran diri
Sebelum Anda keluar dari perusahaan, sesuai prosedur SDM akan berbicara dengan Anda mengenai pengalaman di perusahaan tersebut dan alasan mengundurkan diri. Wawancara tersebut bisa menjadi kesempatan rahasia untuk memberikan kritik yang membangun. Kemungkinan besar, Anda ingin mengungkapkan semua yang ada di dalam pikiran Anda. Namun jangan terjebak.

"Apa pun yang Anda katakan bisa dan akan menjerat rekan Anda," kata Levit. Ini sumber masalah jika Anda bekerja di sebuah industri kecil dan Anda kembali bertemu dengan orang-orang yang sama lagi. Ditambah, komentar tentang bos yang sangat menyiksa atau harapan yang tidak realistis mungkin dapat membuat Anda dianggap sebagai tipe orang pengeluh, kata Shapiro.

Hal tersebut bisa merugikan bagi Anda, jika Anda mencari posisi di perusahaan itu lagi. Saran terbaik untuk wawancara pengunduran diri Anda adalah berfokus pada hal yang positif.

3. Mengambil uang pensiun
Setelah Anda kehilangan pekerjaan atau dipecat, perusahaan Anda akan mengirimkan surat yang menanyakan rencana Anda terhadap dana di rekening pensiun (misalkan ada). Bila Anda sudah tidak memiliki pekerjaan lagi, maka hal tersebut bisa sangat menggoda.

Namun bahkan jika situasi keuangan Anda sedang memburuk, jangan langsung menyerah dan memilih menggunakan uang pensiun itu, ungkap Shapiro. Bukan hanya karena Anda harus bayar penalti untuk mencairkan uang pensiun sebelum masanya, tapi juga uang pensiun “adalah satu-satunya aset yang melindungi Anda dari status kebangkrutan," kata Sapiro.

4. Berbicara negatif tentang perusahaan Anda sebelumnya
Saat Anda melakukan wawancara di perusahaan baru, berhati-hatilah saat menceritakan kepada orang lain tentang pekerjaan lama atau atasan Anda yang lama. Pada dasarnya, jika Anda tidak memiliki sesuatu yang baik untuk diceritakan, maka jangan berbicara sama sekali.

Berbicara hal-hal yang negatif dapat membuat Anda terlihat seperti pengeluh atau membuat Anda tampak setia, kata Shapiro. Ketika Anda ditanya mengapa meninggalkan pekerjaan sebelumnya, berikanlah alasan yang lebih positif, bahkan jika perlu Anda sebaiknya mengada-ada. "Mengatakan bahwa Anda ingin mencoba tantangan baru adalah cara yang positif untuk membalik kenyataan bahwa Anda tidak bisa sejalan dengan atasan Anda," kata Levit.

5. Mengundurkan diri tanpa mendapatkan surat rekomendasi
Beberapa perusahaan tidak mengizinkan karyawan untuk memberikan surat referensi kepada mantan rekan kerja mereka, karena khawatir kritik bisa memicu gugatan. (Seseorang yang merasa difitnah bisa menuduh isi dari surat rekomendasi itu palsu dan merupakan alasan bahwa ia tidak layak untuk dipekerjakan). Sementara itu, ketika calon atasan menelepon ke perusahaan lama Anda untuk memeriksa tentang data diri Anda, pihak personalia biasanya tidak pernah berkomentar kecuali mengonfirmasi jabatan dan masa kerja Anda. sehingga sangatlah penting untuk mengamankan referensi profesional (dengan kop surat perusahaan) jika mungkin atau seseorang yang bisa dipercaya di perusahaan Anda jika tidak memungkinkan.

"Lagipula, Anda akan mendapatkan referensi yang sama," kata Shapiro, yang yakin bahwa akan lebih baik mendapat surat rekomendasi tertulis sebelum Anda meninggalkan pekerjaan lama Anda, karena semakin lama Anda meninggalkan perusahaan tersebut, Anda mungkin akan kesulitan untuk berkomunikasi dengan orang-orang yang Anda butuhkan untuk menjamin Anda.

6. Tidak mengajarkan pengganti Anda mengenai tugas yang harus ia kerjakan
Sebelum Anda meninggalkan perusahaan, cari dan latihlah pengganti Anda, atau setidaknya, menuliskan memo yang panjang dan spesifik mengenai status proyek, lokasi dokumen serta informasi kontak klien. "Mengatakan, 'kamu harus mengurusnya tanpa aku' mungkin akan terdengar hebat, namun hal tersebut tidak mempertahankan reputasi baik Anda," kata Levit. Hal tersebut juga tidak akan menghindarkan Anda dari gangguan rekan yang menggantikan Anda yang akan selalu menelepon.

7. Mengada-ada resume
Sebelum Anda mengirimkan dokumen apa pun dalam bentuk tulisan mengenai riwayat pekerjaan, pastikan semua yang tertulis di dalamnya sudah tepat. Personalia dari perusahaan lama Anda akan dihubungi oleh perusahaan yang Anda lamar untuk memverifikasi masa kerja dan posisi yang Anda tempati dulu, dan Anda tentunya tidak ingin sedikit keteledoran atau ketidakakuratan tulisan Anda membahayakan posisi Anda. Resume Anda bisa menjebak karena sebuah kesalahan faktual yang sederhana, ungkap Shapiro.

8. Bicara tentang peluang pekerjaan baru dengan rekan kerja
Jika Anda sedang menunggu-nunggu hari terakhir bekerja di perusahaan, Anda mungkin ingin mengobrol dan bercerita soal pekerjaan baru Anda dengan rekan kerja, yang hampir pasti akan menanyai Anda dengan pertanyaan-pertanyaan tentang hal itu. Namun sebisa mungkin jangan terlalu blak-blakan, kata Levit.

Anda tentu tidak ingin membuat orang lain merasa tidak enak atau merasa ditinggalkan. Dan Anda tidak ingin menyombongkan diri, yang bisa menimbulkan perasaan negatif pada orang lain. Selain itu, jika Anda melebih-lebihkan kehebatan dari kesempatan baru yang Anda miliki, maka Anda bisa berakhir tampak konyol jika ternyata tidak berhasil.

http://id.she.yahoo.com/8-hal-yang-s...024428412.html


Jika Anda memimpikan untuk bekerja di rumah, tanpa mengganti baju tidur sambil minum kopi di meja kerja sebelah kasur atau apapun alasannya? Anda tidak sendiri, banyak orang mendambakan bekerja tanpa harus keluar dari rumah tetapi tetap menghasilkan uang.


Sepertinya memang menyenangkan, tapi butuh kerja keras dan dedikasi tinggi. Jika anda serius untuk menjadi bos bagi diri sendiri dan bisa menentukan tempat bekerja yang sesuai keinginan anda, berikut ini ada beberapa tips.
1. Analisa Situasi Keuangan Anda
Langkah terpenting dalam memulai usaha sendiri adalah mengetahui pemasukan dan pengeluaran anda setiap bulan. Termasuk untuk apa dan bagaimana pengeluaran dan pendapatan tersebut didapat. Perusahaan anda layak mendapatkan semua itu sejak awal dibangun.
Hitunglah seluruh keuangan anda dengan baik, tak hanya keuangan pribadi tapi juga perkiraan biaya yang diperlukan untuk membuka usaha sendiri tersebut. Berapa banyak uang yang diperlukan untuk memulai? Berapa biaya operasinya setelah satu minggu berjalan? Dengan angka-angka ini di tangan, kemampuan finansial anda akan terlihat dengan jelas.
2. Perhatikan Stabilitas dan Disiplin Diri Sendiri
Uang bukan hanya faktor utama dalam menjalankan bisnis sendiri. Anda juga harus tahu bagaimana bertindak dan disiplin menjadi seorang bos bagi diri sendiri. Lihat beberapa poin di bawah ini:
Tingkat emosi: Apakah anda mudah marah atau panik? Apa anda sulit berpikir saat ada masalah? Bagaimana sikap anda menghadapi tekanan kerja?
Faktor pendukung: Apakah anda mendapat dukungan dari keluarga dan teman dekat? Apakah anda punya seseorang yang mahir dalam bisnis, seseorang yang bisa dimintai bantuan dalam mengambil keputusan dan meminta masukan?
Keahlian manajemen: Apakah anda terlalu bekerja keras? Anda terbiasa kerja dengan tenggat waktu? Bisa memimpin organisasi?
Menjadi bos bagi diri sendiri berarti anda harus benar-benar menghargai waktu, uang dan proyek.
3. Rancang Rencana Kerja
Jika anda menjadi bos, berarti anda akan punya karyawan, jadi bagaimana rencana kerjanya nanti? Jangan tentukan rencana kerja setengah hati karena ini merupakan bisnis yang akan menjadi penopang hidup anda.
Misalkan anda berniat menjadi konsultan bisnis, jangan hanya berhenti sampai di situ. Tentukan juga konsultan bisnis di sektor industri apa anda akan bergerak. Sekalian tentukan juga siapa klien-klien potensial anda.
4. Mulailah Bekerja Paruh Waktu
Biasanya butuh beberapa bulan untuk benar-benar mulai menjalankan bisnis sendiri secara penuh. Untuk memulainya, anda bisa lakukan dengan cara paruh waktu. Sebagian besar waktu anda lakukan dengan bekerja di kantor yang sekarang anda punya. Akhir pekan tiba, jalankan bisnis pribadi anda tersebut.
Mengapa harus perlahan-lahan? Kenapa tidak langsung fokus sekaligus? Alasannya, mencari klien tidak semudah yang anda bayangkan, perlu banyak waktu dan tenaga. Bahkan, waktu kerja anda tidak akan terlalu padat saat awal memulai bisnis, jadi untuk apa menghabiskan banyak waktu kalau anda punya pekerjaan yang lebih penting.
Tunggu sampai benar-benar klien dan keuangan anda siap dikerjakan secara total. Sementara ini lakukan dua pekerjaan sekaligus dulu. Memang anda akan lebih sibuk, tapi ini akan membantu anda dalam mengatur manajemen waktu.
5. Jalankan Masa Transisi
Ketika jumlah klien sudah mulai banyak, keinginan untuk bekerja di rumah akan semakin besar. Pada titik ini, anda memasuki masa transisi yang sangat penting.
Jika memungkinkan, mintalah pada bos anda saat ini untuk mengurangi jam kerja anda, sehingga bisa lebih fokus ke bisnis pribadi. Jika tidak memungkinkan, maka anda harus bekerja lebih keras. Dari sisi keuangan, semakin anda berhemat maka semakin baik untuk bisnis.
6. Siapkan ‘Kantor’
Segera setelah semua elemen siap, anda sudah menjadi sebuah entitas bisnis yang legal. Urus semua urusan administrasi untuk keperluan pembentukan perusahaan supaya tidak ada aspek hukum yang bisa mengganjal anda di kemudian hari. Mintalah bantuan profesional untuk mengurus semua ini.
Anda harus segera mengakhiri masa transisi ini dengan menentukan pilihan, apakah anda sudah siap mengerjakan bisnis pribadi atau masih ingin jadi karyawan? Semakin cepat masa transisi ini terselesaikan maka semakin cepat pula bisnis anda dimulai.
7. Jangan Putus Hubungan
Ketika sudah saatnya untuk mengucapkan selamat tinggal kepada perusahaan tempat anda bekerja selama ini, lakukan secara profesional. Beberapa rekan kerja anda di tempat yang lama kemungkinan bisa membantu bisnis anda ke depan. Jangan sampai putus hubungan hanya karena anda keluar dari pekerjaan saat ini.
8. Pastikan Pekerjaan Terus Mengalir
Kunci kesuksesan sebuah bisnis adalah memastikan pekerjaan terus mengalir. Atur semua jadwal pekerjaan yang paling baru paling utama, sehingga tidak ada pekerjaan yang tertinggal. Kini, semua tergantung anda sendiri, mulai dari mencari klien sampai mendapat pemasukan setiap akhir bulan.
So, Guys…ready to take action ?

Sumber :
http://restomesin.wordpress.com

Selasa, 26 Juni 2012

My Job's stories

Tahun 2012 ini bener bener tahun yang complicated. Di tahun ini, aku mendapatkan pekerjaan yang sebenarnya tidak disangka.  Alhamdulillah aku dapet posisi Quality Assurance Staff di Talkindo Selaksa Anugerah (pasti gak tau ya hehehehee), kalo aku bilang J.co donuts and coffee atau Breadtalk indonesia pasti tau dong.  Yappp Talkindo itu adalah Johnnyandrean groups yang menangui brand J.co, Breadtalk, Roppan, dan salon.

Kenapa aku bilang ini merupakan pekerjaan yang tak kusangka? karena background kuliah aku Biologi, yang murni dan tidak mengetahui industri, hanya mengetahui bidang laboratorium dalam lingkup quality control.

Tetapi itu menjadikan wadah pembelajaran dan pengalaman kehidupan.
Saat pertama kali masuk kerja, ternyata aku ditempatkan di office yang menyatu dengan pabrik pusat.  Rada terkejuut sih saat memasuki pabrik tempat kerja, ternyata mayoritas cowooooook.  Huuuuh genit genit pula #tepookjidat

Posisi Quality assurance yang menempel di benak aku ternyata memiliki peran banyak di kantor, dan masih dibilang multitasking serta mirip "checker"
Tugas tugas penjamin kualitas yang dilakukan di sini mulai dari penerimaan baarang dari supplier sampai pengiriman produk jadi.  Konsep dari peranan Quality Control/Assurance yaitu seperti orang yang menjual buah – buahan, ada yang dipisah – pisahkan antara yang besar dengan harga yang mahal dan yang kecil dengan harga yang lebih murah. Untuk menjamin agar konsumen merasa puas.


Disini pula aku mendapatkan pelajaran bagaimana memahami karakter orang.  Ada beberapa hal yang mungkin sering terjadi di semua pekerjaan, yaitu adanya kesenjangan antara atasan dan bawahan. Point tersebut sangat aku sayangkan, kenapa begitu?? Sebagai contoh: ada masalah di area produksi atau area yang lain, dan para staff tidak share (cerita ) kepada atasan dengan alasan segan dan lama proses memecahkan masalahnya.


Karena ini merupakan pekerjaan pertama aku setelah mengajar, aku akan menjadikan sebuah pengalaman dan bekal menuju sesuatu yang lebih baik serta menghargai orang lain.

Aja ajaaaaa fighting
Doa,Ikhtiar, Tawakkal daaan Jangan Mengeluuuuh :) ^^v

Apa sih sebenernya Quality Control atau Quality Assurance?

Tulisan kali ini sebenernya merupakan lanjutan dari my job's stories heehehee

Masih bingung sbenernya peran dan fungsi quality control/quality assurance (QA/QC) yang aku jalani sekarang.  Karena dulu pas jaman kuliah tidak ada secara detail menjelaskan dan mempraktikkan tugas QC/QA.  Selama menunaikan pekerjaan ini yaa ngecek ngecek ngeceek dan ngecek (mirip evaluator mungkin).  Terkadang sempat terpikir, kalo tiap hari mengecek tapi tidak ada perubahan, ya untuk apa??

Sampai aku menemukan blog yang mengulas sedikit tentang quality control, yang kebetulan si blogger adalah quality control


APA YANG DINAMAKAN QUALITY CONTROL

Manusia sejak awal, sudah memiliki penilaian kebutuhan suatu barang yaitu antara barang yang baik dan tidak baik. Maka dari sana sudah ada QC, karena sudah ada yang baik dan tidak baik, berarti masyarakat konsepnya mempunyai keinginan yang lebih maju dan lebih makmur.

Untuk perusahaan kecil kontrol hanya dilaksanakan sendiri, termasuk kualitas oleh karena itu masalah QC tidak begitu penting, tetapi jika untuk perusahaan menengah dan besar seharusnya perlu adanya QC secara khusus. Untuk itu QC menjadi suatu bagian tersendiri (khusus).

Quality Control adalah profesi Inspecting, Testing, dan Grading. Dengan menggunakan statistik sebagai analisa angka-angka (data-data) yang tepat sebagai jawaban untuk pembanding dan estimasi hasil yang baik dan yang tidak baik dipisah-pisahkan (grading) untuk mencari mana yang dapat diterima (Accept) dan mana yang ditolak (Reject).

Tujuan pengusaha menjalankan QC adalah untuk mencari just to the point dengan cara yang fleksible dan untuk menjamin agar konsumen merasa puas, investasi bisa kembali, serta perusahaan mendapatkan keuntungan.

Bagian pemasaran dan bagian produksi tidak perlu memaksakan, tetapi perlu kelancaran dengan memanfaatkan data, inspection dan testing dengan analisa statistik dari QC yang disampaikan kepada pihak produksi untuk mengetahui bagaimana hasil kerjanya sebagai langkah untuk perbaikan.

Saat pelaksanaan QC dan testing bisa ditemukan beberapa masalah kualitas khusus, kemudian dibuat suatu study masalah khusus agar dapat dipergunakan untuk mengatasi masalah di bidang produksi.

Disamping tersebut di atas tugas QC yaitu : jika terjadi komplain atau return, mengadakan cek ulang dan menyatakan kebenaran return untuk bisa diterima atau tidak diterima secara terpisah lalu laporkan kepimpinan supaya bisa mengusut dan memberikan informasi ke departemen terkait untuk kemajuan proses berikutnya.
Untuk penyelesaian barang – barang seconds Quality juga merupakan tanggung jawab dan tugas QC. 


KONSEP PELAKSANAAN QC TERHADAP DEPARTEMEN QC

Pada perusahaan besar maupun menengah, pelaksanaan tugas Quality Control diperlukan personil yang perpendidikan tinggi (sarjana) dan memiliki kemampuan untuk menganalisa data statistik, memiliki kemampuan dan pengalaman dalam manajemen produksi serta bersikap jujur, mampu menahan diri dan mempunyai loyalitas yang tinggi terhadap perusahaannya. Tidak takut menghadapi kesulitan dan tidak menerima jasa serta siap untuk tidak merasa sedih jika menerima kondisi yang pahit, sebab dari dulu berprofesi seperti ini tidak sederhana dan harus berirama (berfrekuensi), ahli di bidang teknologi dan pengalaman dalam mengatasi masalah personil. Karena QC adalah mendata hasil testing dan inspecting dari beberapa dept. produksi dan dari data tersebut diinformasikan sampai kepada tom manajemen, maka manajemen produksi biasanya kurang senang. Prinsipnya semua orang tidak begitu senang jika profesinya dikoreksi, apalagi manager – manager berusia muda, sifatnya merasa dirinya super dan sifatnya melawan arus adalah kuat sekali.

Untuk melaksanakan QC selain harus mendapatkan dukungan dari atasan, juga memerlukan seseorang yang mempunyai kedudukan tinggi dan bertanggung jawab, serta aktif dalam konsep QC, disiplin untuk memberikan konsepnya kepada semua orang, dan harus bisa bekerja sama, serta harus team work.
Dengan ini profesi QC bisa lancar dan bisa cepat mengalami kemajuan.

Sebagai QC jangan sekali-kali membuat informasi dan usulan yang tidak pas, hal ini akan menambah kesalahpahaman. Untuk hasil kualitas yang baik dan yang tidak baik, semua harus didata dan diinformasikan sampai ke manajemen bisa mengetahui permasalahanya. Sebagai QC harus mempunyai konsep dasar; bagaimana sering memberi usulan, saran atau proposal terhadap Departemen terkait yang terdapat kesalahan. Selain konsep juga harus mempunyai pemikiran, teknologi, skill serta mengerti permasalahanya, dan cara penyampaiannya harus sopan dan santun, agar tidak terjadi kesalahpahaman.

Memang kerja QC kadang-kadang insidentil dan antisipasi resolusi proposal, kami percaya konsep dasar dan pokok adalah menggunakan QC, maka di dalam penggunaan QC selain mampu menguasai teknologi dan ilmu secara umum, juga memerlukan pemikiran dari segi material dan spiritual. Jika tidak demikian mungkin berlawanan dan akan timbul perpecahan yang akhirnya tidak bermanfaat untuk perusahaan.
Perlu kita ketahui segenap anggota QC harus bekerja dalam kondisi adil terhadap profesinya dan dengan sungguh – sungguh mampu menemukan permasalahan yang serius akan tetapi penyampaiannya harus dengan kata – kata yang baik, sedapat mungkin dengan ramah dan netral.
Pada umumnya saat menerima klaim masing – masing departement hampir semua dengan menggunakan cara yang sama yaitu : proteksi diri sendiri kemudian melemparkan masalahnya dengan orang lain ketika menghadapi pengusutan dari atasannya.
Sesungguhnya klaim dari konsumen mencakup banyak penyebabnya.
Contoh : ada klaim barang konfeksi dari konsumen dan yang pertama kali harus menerima dan bertanggung jawab seharusnya bagian Garment (konfeksi), tetapi mereka dapat mencari cacat yang asalnya bukan dari konfeksi, misalnya miss print yang cacat dari bagian printing atau double pick yang cacat dari kain grey, padahal ada teknologi tambal sulam yang harus dikuasai tapi saat proses konfeksi tidak mampu, sehingga standarnya tidak sesuai dan dalam percakapan menghindari masalah yang sesungguhnya, sehingga membuat hal yang negatif. Kemudian setelah dianalisa oleh QC ternyata ditemukan masalah printing 10% dari kain grey 10% dan yang 70% dari konfeksi, sedang untuk yang lainya 10% ini hasil analisa disalah satu perusahaan tekstil yang menengah dan yang besar. Oleh karena itu bukan setiap departement harus berhati – hati, tetapi yang terpenting adalah masalah konfeksi yang harus diperkuat dalam melatih tenaga kerjannya dan tidak perlu membuang-buang waktu untuk ribut-ribut yang tidak menemukan titik sasarannya serta tidak mencapai tujuan, dalam mengatasi permasalahan yang lebih baik. 

PANDANGAN ORANG UMUM TERHADAP QUALITY CONTROL

Pada umumnya pejabat yang bersangkutan hanya berkonsep QC, jika pendirian tidak sama, konsepnyapun tidak sama.
Menjalankan profesi QC didalam perusahaan, konsepnya harus tepat,mampu bekerja sama, pembagian tugas yang adil, kreatif dan rajin serta harus team work.
Secara umum ada beberapa konsep QC, antara lain :

  1. konsep QC antara pembeli dan penjual pada negara yang mempunyai standar kehidupan dan selera serta permintaan konsumen yang tidak sama, yaitu :
è ada konsumen yang mempunyai permintaan mengharuskan kualitas produksi pada tingkat paling atas. Walau harganya tinggi tidak jadi masalah, misalnya : untuk label /merk yang ternama contoh : seperti di negara eropa, Amerika dan jepang pada saat ini.
è Ada konsumen yang mempunyai selera harganya murah walaupun kualitas produksinya kurang tidak jadi masalah, misalnya Afrika, timur tengah atau konsumen dari pedesaan.
è Ada konsumen yang maunya harganya murah, kualitas bagus dan deliverynya cepat dan tepat, biasanya para pengusaha.

  1. konsep QC dari pengusaha dapat dibagi – bagi sesuai dengan kesuksesannya :
è hasil kualitas yang baik, dapat memuaskan konsumen dan mendapatkan keuntungan serta memerintahkan bawahan untuk betul – betul bertanggung jawab.
è Harus mengadakan percobaan dan pembuktian terhadap standar kualitas yang dicurigai dan tidak perlu khawatir jika terjadi kegagalan, harus ada kemauan dan tekad untuk mengambil pengalaman demi mengurangi kerugian yang lebih nyata.
è Meminta kepada bawahan untuk menjual hasil yang ”O” defect, dan tidak dibenarkan terjadi barang second Quality menumpuk di gudang.
è Ada beberapa pimpinan yang menerima klaim dari konsumen tetapi harus benar – benar tepat dan ada yang mengganti dengan mengubah syarat harus dapat menemukan penyebabnya supaya bisa untuk diperbaiki. Dan jangan sampai menempatkan orang yang tidak mampu dan tidak mudah melakukan kesalahan serta harus maklum terhadap hati sanubari mereka.
Memberikan pelayanan terhadap masyarakat juga harus dipelihara dengan baik dan bertanggung jawab terhadap anak buahnya yaitu dengan memperhatikan kehidupan dan kesejahteraannya, rasa aman dan adil sehingga anak buah tersebut ada kemauan bertanggung jawab terhadap konsep QC yang diberikan.
è Sehingga barang hasil produksi apa yang paling parah jika terjadi kesalahan dari pihak produksi harus dikenakan ganti rugi.

  1. konsep QC dari pihak / unit produksi
è para karyawan diproduksi harus mau mengerti dan bertanggung jawab apabila terdapat salah satu produksinya cacat. Dengan ini masalah kualitas produksi yang harus menjadi tanggung jawabanya jangan sampai jelek terus menerus. Dalam konsep pokok QC didalam proses produksi ialah baik buruknya barang produksi adalah merupakan tanggung jawab manager produksi. Bagian QC tidak berhak mencampuri urusan ini, karena tidak demikian sistem kerja QC didalam kenyataannya tidak bisa leluasa dijangkau. Contohnya : karyawan / karyawati tidak tahu menahu sehingga pihak pimpinan memiliki kesempatan untuk melempar tanggung jawabnya. Dari sini bisa menjadi penyebab kesalahpahaman, sehingga terjadi masalah yang tidak baik

è konsep QC terhadap bagian produksi :
hasil produksi di cross check lagi oleh bagian QC dan hasilnya diinformasikan kepada bagian produksi dengan data yang jelas sebagai komunikatif, kemudian ditindaklanjuti oleh QC.
Hal ini sama seperti kepala keluarga yang memepunyai anak – anak yang sekolah, dan dari pihak sekolah memberikan informasi berupa rapor (hasil study dari anak tersebut) kepda orang tuanya, agar orang tua tersebut bisa mengetahui kondisi anaknya disekolah, biasanya untuk hasil yang baik mendapatkan hadiah dan untuk hasil yang tidak baik diberikan pengarahan agar mereka bisa berubah lebih maju.
artikel diatas diambil dari buku "Pengendalian Mutu Terpadu Untuk Industri Tekstil dan Konfeksi" karya Peter Chang MK.